Páginas

Sabtu, 22 Maret 2014

Local Site Effects (Efek Tapak Lokal)

Beberapa penelitian yang telah disampaikan oleh beberapa peneliti (Nakamura, 2000. Daryono, 2009) bahwa kerusakan bangunan akibat gempabumi dipengaruhi oleh site effects atau dipengaruhi oleh kondisi tanah setempat.
Site effects adalah kondisi tanah yang berada dibawah bangunan yang mana telah terjadi kerusakan pada struktur tanah di permukaan. Apabila telah terjadi getaran tanah yang disebabkan oleh gempabumi maka kondisi tanah setempat mempengaruhi respon bangunan yang dibangun diatasnya.
Ada terdapat 3 (tiga) kategori dari site effects yaitu :
  1. Kondisi fisik tanah
  2. Efek basin endapan 
  3. Efek kondisi topografi permukaan tanah
Hubungan antara frekuensi natural tanah dengan frekuensi natural bangunan, dapat mengetahui nilai resonansi dari  bangunan sehingga dapat menentukan kerentanan suatu bangunan terhadap gelombang gempabumi atau dapat mengestimasi site effects yang diakibatkan oleh gempabmui.


Baca Selengkapnya...

Sabtu, 15 Maret 2014

Tutorial Zmap Dalam Menampilkan Sebaran nilai a- dan b- value

Postingan kali ini, saya akan memberikan cara penggunaan Zmap v6.0 dalam memetakan sebaran nila b value, a value. Langsung saja, langkah awal sebelum menggunakan zmap yang harus diperhatikan dan wajib dilakukan adalah di laptop atau komputer sahabat geofhyan harus sudah terinstal aplikasi matlab karena aplikasi Zmap dapat dijalankan dengan menggunakan matlap.

Berikut langkah-langka penggunaan Zmap :
  1. Buka aplikasi matlab kemudian open scrip Zmap dan run maka aplikasi zmap langsung terbuka dan siap untuk dijalankan.
  2. pada menu Zmap v6.0 pilih Create or Modify*. mat Data file, pada window berikutnya pilih EQ data file dan pada format pilih Ascii colums. maka muncul window seperti ini :


  3. Sebelum di load pastikan sahabat geofhyan sudah membuat file data gempabumi yang sudah disortir. Untuk format kolom data gempabumi yang sahabat geofhyan buat di notepat harus sesuai dengan format dari Zmap contoh format kolomnya seperti gambar diatas. Jika sudah di buat sesuai ketentuan langkah berikutnya pilih load dan pilih file data gempabumi yang telah dibuat.
  4. Muncul window berikut :



    pada Genereal Parameters! pilih sesuai dengan data gempabumi sahabat geofhyan jika sudah diisi parameternya langsung pilih Go.
  5. pada window Seismicity Map pilih ZTools >> Decluster the catalog >> Decluster using Reasenberg setelah itu akam muncul window Declustering Input Parameters langsung pilih Go Matlab "TIDAK" perlu di masukan atau di ubah lagi parameternya >> Yes please >> Yes Please >> Ok.


  6. Kembali ke window Seismicity Map pilih Overlay >> Volcanoes, Plate Boundaries etc. >> Add coastline/faults from existing*. mat file >> pilih coastzmap









  7. Kembali lagi ke window Seismicity Map pilih ZTools >> Analyse time series ... maka muncul window Cumulative Number. Masih di window Cumulative Number pilih ZTools >> Mc and b-value estimation >> automatic muncul window Mc Input Parameter tanpa mengisi parameternya langsung pilih Go dan muncul window Frequncy-magnutide distribution.

  8. Pada window Frequncy-magnutide distribution pilih ZTools >> Estimate recurrence time/probability.

  9. Kembali lagi ke window Seismicity Map pilih ZTools >> Mapping a- and b- values >> Calculate a Mc, a- and b- value map maka muncul window Grid Input Parameter. Pada window Grid Input Parameter pilih 5. Best Combination (Mc95 - Mc90 - maximum curvature) pada Please choose an Mc estimation option.  Untuk Number of Events diubah nilainya 300, pada Spacing in x (dx) / y (dy) in deg : nilainya adalah 0.1 0.1 dan pada Fixed Mc (affects only "Fixed Mc"): diisikan sesuai nilai Mc yang telah diketahui dan dapat dilihat nilainya di "window Frequncy-magnutide distribution", untuk parameter lainnya tidak perlu dirubah dan kemudian pilih Go.


    langsung otomatis menuju window Seismicity Map untuk membuat grid, sahabat geofhyan dapat membuat empat titik grid saja di setiap sudut pada window Seismicity Map dan pada titik ke empat langsung klik kanan saja dan tunggu sampai proses b- value grid selesai kemudian di save dan hasilnya seperti ini :


  10. Untuk lebih diperhalus tampilan b-value map maka sahabat geofhyan dapat memilih Display >> shading interpolated. Hasilnya seperti dibawah ini :



  11. Untuk menampilkan a-value map, sahabat geofhyan langsung pilih Maps pada window b-value-map >> a-value map. Hasilnya seperti dibawah ini :

  12. SELESAI....
Demikian langkah-langkah dalam menampilkan sebaran nilai a- dan b- value dengan menggunakan aplikasi Zmap v6.0 moga bisa bermanfaat.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 09 Februari 2014

Sejarah Perkembangan Teori Tektonik

1. Sir Francis Bacon (1620)
Pada tahun 1620 francis bacon membuat peta dunia dan menemukan dan menekankan bahwa benua-benua yang dipisahkan oleh samudra atlantik memiliki kemiripan, kemiripan itu diduga akibat benua afrika yang berada di sebelah timur atlantik dan benua amerika yang ada di sebelah barat atlantik saling memisahkan diri.


2. Francois Placet (1668)

Francois Placet menolak teori yang dicetuskan oleh Francis Bacon dan menyebutkan bahwa samudra atlantik terbentuk dikarenakan oleh adanya banjir besar pada zaman Nabi Nuh. 

3. Para Ahli Geologi beraliran Fixist (1800)

Para ahli geologi pada zaman ini menyatakan bahwa cekungan samudra dan benua-benua tidak mengalami perpindahan sama sekali, dan sudah terjadi/terbentuk sejak bumi itu sendiri terbentuk.  Perbedaan bentuk pada permukaan bumi ini diakibatkan oleh proses pendinginan bumi dalam fase pembentukan diri dari kondisi cair menjadi padat yang memakan waktu yang berbeda-beda.

4. Edward Zuess (1884)

Mengemukakan tentang teori laurasia-gondwana untuk pertama kalinya. Teori ini menyatakan bahwa dahulu awalnya bumi itu hanya terdiri dari dua benua yang sangat besar, yaitu gondwana di sekitar kutub selatan bumi dan laurasia di sekitar kutub utara bumi. Keduanya kemudian pecah karena adanya pergerakan secara perlahan kea rah equator bumi, dan akhirnya terpecah hingga ke posisi sekarang ini dan membentuk Asia, Eropa, dan Amerika, hasil dari pecahan laurasia. Sedangkan hasil pecahan Gondwana adalah Afrika, Australia, dan Amerika Serikat.

5. Alferd Wegener (1912)

Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua maha besar yang disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian terpecah-pecah dan terus bergerak melalui dasar laut. Gerakan rotasi bumi yang sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat menuju equator. Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta adanya kesamaan batuan dan fosil pada kedua daerah tersebut.

6. Arthur Holmes dan Harry H. Hess (1928)
Arthur Holmes dan Harry H. Hess mengemukakan tentang teori konveksi, menurut mereka terjadi arus konveksi yang terjadi di dalam bumi yang masih panas dan berpijar, arus konveksi ini mengarah ke lapisan kulit bumi yang berada diatasnya, sehingga arus tersebut membawa material (lava) dari lapisan bawah sampai ke atas dan kemudian membeku dan membentuk lapisan baru dan menggeser lapisan kulit bumi yang lebih tua. Teori ini menjelaskan tentang penyebab bagaimana benua itu dapat bergerak yang pada teori-teori sebelumnya belum dapat menjelaskannya.


7. Tozo Wilso (1968)
Teori lempeng tektonik yang dikemukakan oleh Tozo Wilso menyatakan bahwa pada teori ini, kulit bumi atau litosfer terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer, Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer yang berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi. Teori lempeng tektonik banyak didukung oleh fakta ilmiah, terutama dari data penelitian geologi, geologi kelautan, kemagnetan purba, kegempaan, pendugaan paleontologi, dan pemboran laut dalam. Lahirnya teori lempeng tektonik sebenarnya merupakan jalinan dari berbagai konsep dan teori lama seperti Teori Apungan Benua, Teori Arus Konveksi, Teori Pemekaran Lantai samudera, dan Teori Sesar Mendatar, sebagaimana telah dijelaskan pada teori-teori di atas.


 8. Spyros B. Pavlides (1989)
Menyatakan bahwa Teori Neotectonics adalah studi peristiwa tektonik muda yang telah terjadi atau masih terjadi di suatu wilayah tertentu setelah orogeny atau setelah set-up tektonik yang signifikan yang terakhir, peristiwa tektonik yang baru-baru ini cukup memungkinkan untuk analisis rinci dengan metode yang berbeda dan spesifik, sedangkan hasil mereka secara langsung kompatibel dengan pengamatan seismologi " pendekatan ini telah diterima oleh banyak peneliti. Di University of Nevada, Reno Pusat Studi neotektonik,  neotectonics didefinisikan sebagai "studi tentang gerakan geologis dari kerak bumi, terutama yang dihasilkan oleh gempa bumi, dengan tujuan memahami fisika dari terulang kembalinya gempa, pertumbuhan pegunungan, dan resiko gempa yang terkandung dalam proses ini. "
 
Baca Selengkapnya...

Minggu, 02 Februari 2014

Filtering Dalam Pengolahan Sinyal

Dalam pengolahan sinyal pada umumnya dilakukan penyaringan (filtering) dimaksudkan untuk memperkuat suatu fitur tertentu yg diinginkan dan menghapuskan atau melemahkan fitur lain yg tidak diinginkan. Filter yang digunakan untuk menghapuskan bagian-bagian sinyal pada rentang frekuensi tertentu dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) jenis yaitu : 

      1. High pass (low cut)
          High pass filter (Penyaring lolos atas) yaitu : menghapuskan komponen-komponen sinyal dengan frekuensi < f1.

      2. Low pass (high cut)
        Low pass filter (Penyaring lolos bawah) yaitu : menghapuskan komponen-komponen sinyal dengan frekuensi > f2.

      3. Band pass.  
          Band pass filter (Penyaring lolos tengah): menghapuskan komponen-komponen sinyal dengan frekuensi < f1 dan frekuensi > f2. 

Frekuensi f1 dan f2 disebut frekuensi pojok (corner frequency) yang didefiniskan sebagai titik tempat amplitudo sinyal tersaring berkurang menjadi 0,7 × amplitudo sinyal sebelum tersaring.   
  



Dalam diagram log-log, filter biasanya dinyatakan sebagai segmen garis lurus. Rasio amplitudo output terhadap input disebut gain dan sering dinyatakan dalam desibel (dB).

                                           dB = 20log (gain)

Ketajaman filter dinyatakan dengan kemiringan (slope) n atau sering juga dinyatakan dg jumlah kutub (pole) filter tersebut. Dalam pengolahan sinyal, kemiringan n biasanya bernilai 1 hingga 8, utamanya 4. Ketajaman filter kadang2 juga dinyatakan sbg laju peluruhan amplitudo dlm dB/oktav.






Baca Selengkapnya...

Rabu, 11 Desember 2013

Tektonik Maluku Utara

        Kawasan Maluku Utara adalah kawasan yang didominasi oleh perairan, dengan perbandingan luas daratan dan laut adalah 1 : 3. Kawasan ini terdiri atas 353 pulau dengan luas kira-kira 32.000 km², yang tersebar di atas perairan seluas 107.381 km². Gugusan kepulauan di kawasan Maluku Utara terbentuk oleh relief-relief yang besar, Palung-palung samudra, dan Punggung Pegunungan yang sangat mencolok saling bersambung silih berganti. Secara umum struktur fisiografi kawasan Maluku Utara terbentuk dari zona pertemuan dua sistem bentang alam. Kedua sistem bentang alam tersebut antara lain adalah Sistem Bentang Alam Sangihe dan Sistem Bentang Alam Ternate, dengan batasnya adalah Cekungan Celebes di barat dan Cekungan Halmahera di timur. 

 Zona benturan Laut Maluku merupakan bagian yang paling rumit di kawasan  ini. Lempeng  Laut  Maluku,  yaitu  sebuah  lempeng  benua  kecil mengalami tumbukan ke Palung Sangihe di bawah Busur Sangihe di barat dan ke arah timur di bawah Halmahera, sedangkan di sebelah selatannya terikat oleh Patahan Sorong.
 Busur dalam Halmahera yang bersifat vulkanis berkembang di sepanjang pantai barat Halmahera dan menghasilkan pulau-pulau lautan yang bersifat vulkanis, antara lain adalah : Ternate, Tidore, Makian dan Moti. Mare terbentuk dari material vulkanis yang terangkat, sedangkan Kayoa berasal dari terumbu karang yang terangkat. Mayu dan Tifore yang terletak di sepanjang gigir tengah Laut Maluku yang meninggi merupakan keping Melange aktif .

       Pulau Halmahera dan pulau-pulau disekitarnya yang ada di Indonesia bagian Timur termasuk ke dalam sistem pertemuan 3 (tiga) lempeng yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Samudera Philipina (Hamilton, 1979). Bagian Utara Halmahera merupakan lempeng Samudera Philipina yang menunjam di bawah Philipina sepanjang palung Philipina yang merupakan suatu konfigurasi busur kepulauan sebagai hasil tabrakan lempeng di bagian barat Pasifik. Pulau ini dicirikan dengan Double ArcSystem dibuktikan dengan adanya endapan vulkanik di lengan barat dan nonvulkanik di lengan timur. 


Di selatan Halmahera pergerakan miring sesar Sorong ke arah barat bersamaan dengan Indo-Australia struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi Weda yang berumur Miosen Tengah-Pliosen Awal. Sumbu lipatan berarah Utara-Selatan, Timur Laut - Barat Daya, dan Barat Laut-Tenggara.




                   Tektonik Indonesia Timur (Hamilton,2000)


            Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik umumnya berarah Utara-Selatan dan Barat Laut-Tenggara. Kegiatan tektonik dimulai pada Kapur Awal dan Awal Tersier, ketidakselarasan antara batuan berumur Paleosen-Eosen dengan batuan berumur Eosen-oligosen Awal, mencerminkan kegiatan tektonik sedang berlangsung kemudian diikuti kegiatan gunung api. Sesar naik akibat tektonik terjadi pada jaman Eosen- Oligosen. Tektonik terakhir terjadi pada jaman Holosen berupa pengangkatan terumbu dan adanya sesar normal yang memotong batu gamping.
Baca Selengkapnya...